Mahasiswa Minta Disdik Tindak Tegas Kasus Bully Al Azhar Summarecon

.

Mahasiswa Minta Disdik Tindak Tegas Kasus Bully Al Azhar Summarecon

Minggu, 26 Januari 2020
Gedung Islam Al-azhar 
BEKASISATU.ID - Dugaan kasus Bully dan pengeroyokan murid yang terjadi di SMP Al Azhar Summarecon Kota Bekasi mengundang keprihatinan mahasiswa Kota Bekasi.

Perwakilan mahasiswa, Richi Ramdhani yang juga menjabat Ketua Presidium IKKIMSI, kasus dugaan pengeroyokan yang dialami oleh salah satu murid yang berinisial P merupakan dugaan tindakan kriminal.

"Sekolah itu merupakan lembaga pendidikan. Anak yang kurang pengetahuannya dididik dan dibina biar jadi anak yang cerdas dan bermanfaat. Bukan di bully dan di keroyok," kata Richi saat ditemui di Gor Kota Bekasi, Minggu (26/01/19).

Richi juga mengatakan, kasus kekerasan bully dan pengeroyokan itu masuk dalam tindak pidana. "Menurut Undang-undang nomor 35 tahun 2014 pihak sekolah harus bertanggungjawab dan bukan anaknya yang dicari kesalahan seperti berita yang sedang heboh sekarang ini," kata dia.

Richi juga menyebut Dinas Pendidikan Kota Bekasi jangan pasif dengan kasus-kasus seperti ini. "Sebab kasus dugaan bully dan pengeroyokan terhadap murid merupakan perbuatan kekerasan yang berdampak kepada pertumbuhan anak di masa depan. Karena, bisa jadi anak-anak yang terkena kasus bully dendam dan mereka akan melakukan hal yang sama kepada adik kelas mereka," ujarnya.

"Warga Bekasi harus menentang dugaan perbuatan bully di sekolah Al Azhar Sumarecon dan dimana saja. Stop sekarang juga," tegasnya.

Seperti diketahui seorang murid berinisial P diduga mengalami tindakan bully dan pengeroyokan. Ironisnya, sebagai korban P malah diminta pihak sekolah untuk keluar dari SMP Azhar Sumarecon. Pihak orang tua tidak menerima dan meminta keadilan serta melaporkan kasus ini ke Komisi Perlindungan Anak Daerah Kota Bekasi.

Sumarwanto, Humas Sekolah Al-Azhar dalam keterangan tertulis menyatakan, Senin, (09/12/19), mengatakan, tidak pernah ada aksi pengeroyokan yang dilakukan senior kelas terhadap siswa P.

"Sesuai dengan temuan fakta di lapangan, tidak pernah terjadi pengeroyokan oleh siswa senior kepada siswa P, namun yang terjadi adalah P melakukan kontak fisik satu lawan satu dengan teman seangkatannya," tandas Sumarwanto. (GL)